Seperti janji saya beberapa waktu yang lalu pada postingan saya sebelumnya, saya akan menambahkan beberapa foto dan video dari acara Heritage and Organda Expo 2011 yang lalu...
Persiapan...
Acara....
video amatir pentas Didik Nini Thowok dalam panggung HOE...
photo and video by: fizer0
Senin, 07 Februari 2011
Foto + Video HOE 2011
Senin, 31 Januari 2011
Heritage and Organda Expo 2011
Tidak terasa sudah hampir 3 tahun saya kuliah di STAN. Mungkin ini adalah HOE terakhir saya (sebagai seorang mahasiswa) meskipun saya berharap bisa datang lagi tahun depan meski sudah berstatus sebagai alumni.
MMhh... mungkin saya perlu jelaskan dulu apa itu HOE?
Heritage and Organda Expo atau bisa disingkat HOE merupakan sebuah acara yang menampilkan kebudayaan dari berbagai macam daerah di seluruh belahan Indonesia yang ditampilkan oleh beberapa Organda (Organisasi Daerah) yang berada di STAN. Dalam ajang yang digelar terbuka untuk umum ini, para mahasiswa STAN yang berasal dari Sabang sampai Merauke diberikan kesempatan untuk menampilkan kebudayaan yang ada di daerahnya masing-masing.
Salut, karena tidak semua perguruan tinggi atau sekolah lain bisa mengadakan acara seperti. Mungkin hanya STAN yang bisa mengadakannya (*sombong). Ya, karena cuma STAN yang mahasiswanya berasal dari berbagai daerah, begitu pula penempatan kerjanya nanti setelah lulus...
Acara yang sangat spektakuler menurut saya, karena selain menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaan, acara ini mengajak kita semua untuk melihat, mendengar dan lebih merasakan ragam dan keindahan kebudayaan di Indonesia.
Karena saya berasal dari Solo, maka saya akan ceritakan dulu mengenai apa yang kami tampilkan dalam acara tersebut.
Selama beberapa hari kemarin, saya bersama teman-teman yang tergabung dalam Paseduluran Priyayi Solo (Paspilo) bekerja keras membuat sebuah atap joglo yang nantinya akan digunakan sebagai hiasan di stand kami, stand Solo yang bertemakan pasar gedhe solo. Joglo ini dibuat dari potongan2 bambu dengan ukuran 3x3 m dengan tinggi sekitar 2 - 2,5 m. Cukup besar mengingat lebar jalan dari tempat kami membuat ke tempat acara diadakan sangat sempit sehingga kami harus memutar cukup jauh lewat jalan raya. Akhirnya sampailah kami di tempat dan mulai kesulitan untuk mendekor dan memasang joglo ini di atas stand. Meskipun akhirnya selesai juga tepat sebelum subuh (perlu diketahui, kami mulai mengerjakannya dari sore hari dengan istirahat sebentar dari magrib-isya). Melelahkan memang, tapi kami merasa puas.
Esok harinya.. saya pun terpaksa bangun pagi (setelah tidur sekitar 3,5 jam) karena tidak mau sedikit pun ketinggalan acaranya, terutama makanannya. Stand kami menyajikan pecel ndeso, beras kencur, dan brambang asem pada pagi hari, selat dan dawet siangnya, lalu sate kere dan wedang jahe pada malamnya.
Acara berlangsung cukup semarak meski diwarnai dengan cuaca yang sangat panas, sampai munculnya fenomena halo matahari di siang hari. Semua stand diserbu oleh pengunjung yang bermunculan tak beraturan dari berbagai celah. Pengunjung pun berserakan dimana-mana dengan berbagai posisi dan gaya masing-masing di tengah mendidihnya lapangan A.
Selain stand kami ada pula stand dari berbagai daerah seperti sulawesi yang mengusung tema pantai losari dengan menyajikan coto makassar, aceh yang menyajikan mie aceh, magelang yang mengusung tema candi borobudur, bandung dengan tema parijs van java, jogja, semarang, madura, lampung, jakarta, malang, surabaya, NTB, sumut, sumbar, sumsel, riau, bogor, cirebon dan sekitarnya, kudus-jepara, banyumas, kalimantan, pati, serta Bali yang memenangkan kategori Organda Expo. Tentunya kesemuanya tidak bisa saya jelaskan satu per satu karena terbatasnya kata-kata di otak saya, yang jelas setiap daerah menampilkan tema yang beragam dan luar biasa.
Selain stand yang menyajikan hidangan2 spesial, ada juga heritage yang menampilkan berbagai kesenian budaya dari berbagai daerah yang juga dimenangkan oleh Bali yang menampilkan pertunjukan yang sangat spektakuler dan saya rasa memang pantas untuk menang. Acara pun ditutup pada malam harinya dengan penampilan dari Didik Nini Thowok yang mampu menghipnotis seluruh penonton.
Sayangnya saya tak sempat merekam semua aksinya karena memori kamera saya terlanjur habis.
Update:
Foto + Video HOE 2011
Rabu, 19 Januari 2011
Black or White...
Convince me that the truth is always gray - the killers, losing touch
Hidup bukanlah hitam dan putih. Bukan hanya baik dan buruk, atau benar dan salah. Selalu saja ada abu-abu di antara keduanya. Selalu saja ada keraguan di antara pilihan yang dianggap pasti sekalipun. Selalu ada kebohongan dibalik kejujuran, begitu sebaliknya selalu ada kejujuran di balik kebohongan.
Seorang yang jujur tidak mungkin selamanya akan selalu jujur terus-menerus, selalu saja ada alasan untuk sesekali berbohong, entah itu alasan baik atau buruk. Sebaliknya seorang pembohong besar sekalipun pasti pernah berkata jujur, karena jika ia tidak pernah berkata jujur, justru dia akan dianggap sebagai orang yang jujur karena selalu konsisten terhadap kebohongannya.
Saya berharap prolog di atas tidak terlalu berat, karena saya tidak bisa memikirkan kata-kata yang lebih mudah dicerna. Tidak apalah, bahasa hukum di undang-undang kita saja yang tidak mudah dicerna malah menjadi patokan. (halah.. alesan)
Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari kisah-kisah penegak hukum di negeri kita yang kacau balau. Sebegitu kacaunya sampai-sampai kita tak pernah tahu dan hanya bisa menduga-duga siapa sebenarnya yang salah, meskipun terkadang pengadilan telah memutusnya. Ada banyak keraguan yang mendasarinya, misalnya apakah hakim benar2 bersih (baik jasmani dan rohani- sudah mandikah atau gosok gigi? karena bau mulut seseorang bisa sangat mempengaruhi konsentrasi lawannya), atau mungkin ada permainan lain yang dimainkan oleh tersangka atau penuntut barangkali seperti tetris atau game online di saat sidang.
Saya sendiri kurang begitu paham dengan hukum, meski saya pernah mempelajarinya sedikit dari mata kuliah pengantar hukum. Yang saya tidak paham bukanlah masalah formal dan material tentang pidana atau perdata, yang keduanya bisa saya pelajari dalam KUHP, KUHAP, KUHPer, atau KUHAPer. Yang saya tidak paham adalah jika hukum ingin menegakkan keadilan mengapa hukum di negeri kita malah membuat banyak hal menjadi tidak adil....
Hanya karena hukum mengatakan seperti itu, tidak bisa kita menjadikan orang yang bersalah menjadi tidak bersalah begitu sebaliknya. Hukum bertujuan untuk menegakkan keadilan, bukan menciptakan "keadilan" sendiri. Yah, Setidaknya itu pendapat saya kalau memang tidak ada referensi lain yang bilang begitu.
Saya sendiri sudah muak, kalau ada orang yang bilang "Ya, saya tahu anda tidak bersalah, tapi menurut peraturan Anda tetap harus dihukum." atau semacamnya lah. Kalau memang tidak bersalah, kenapa harus dihukum? Peraturan bisa saja salah, karena itu juga dibuat oleh manusia. Kenapa bukannya kita memperbaiki peraturannya, tapi malah menjalankan aturan yang salah itu?
Okelah kalau itu memang tentang peraturan, tapi kenapa itu hanya menimpa rakyat lemah saja? Sedangkan orang2 yang berkuasa selalu saja menang. Apakah hanya karena rakyat kecil tidak ada yang paham hukum? Memangnya para penguasa itu juga paham hukum? Bahkan saya agak sangsi apa penegak hukum kita juga paham hukum....
Namun, seperti yang telah saya katakan bahwa selalu ada abu-abu di balik kebenaran. Yang terlihat benar terkadang adalah kejahatan sempurna. Yang terlihat salah terkadang adalah kebaikan besar yang tertutupi. Karena itu kita harus melihat suatu hal dari banyak sisi. Banyak hal akan menjadi sangat berbeda jika dilihat dari sudut yang berbeda. Begitu sebalikya, hal yang kelihatannya berbeda, terkadang sebenarnya adalah sama. Bahkan jika dilihat dari sudut pandang tertentu sebenarnya Hitam dan Putih itu sebenarnya adalah sama.
Menurut Anda?
Kamis, 13 Januari 2011
Seberapa Jauhkah Anda Berjalan untuk Mendapatkan Air?
Air mungkin bukanlah hal yang berharga bagi sebagian orang, termasuk Anda barangkali karena memang tersedia berlimpah di tempat kita. Lagipula bumi ini kan 2/3-nya diselimuti dengan air, kenapa kita harus takut kekurangan air?
Namun, coba Anda simak hitung-hitungan saya berikut:
Total volume air yang ada di bumi ini sekitar 1 milyar km3. Sungguh jumlah yang sangat besar bukan?
Namun, perlu anda tahu bahwa hanya 2,5% dari total volume itu yang merupakan air tawar, atau sekitar 35 juta km3. Tidak apa-apa, itu masih ukuran yang sangat besar untuk mencukupi kebutuhan seluruh makhluk hidup di dunia ini.
Tunggu dulu, ini belum selesai.
Dari total sumber air tawar itu sekitar 24 juta km3 atau 70%-nya berupa es dan salju abadi yang menyelimuti pegunungan-pegunungan tinggi, kutub utara, dan kutub selatan.
Hmm.. masih ada sisa 30% atau tak lebih dari 11 juta km3. Tenang saja itu memang bukan jumlah yang besar, tapi masih cukup bagi kita semua.
Sayangnya itu bukanlah jumlah yang tersedia untuk kita. Itu adalah air yang tersimpan dalam bentuk air tanah yang dapat berupa air tanah dangkal maupun dalam (sampai sekitar 2000 m, kelembaban tanah, air rawa, dan lapisan es.
Hanya sekitar 0.3% dari seluruh air tawar atau sekitar 105.000 km3 yang merupakan air sungai dan danau yang (mungkin) bisa langsung dimanfaatkan.
Jika dilakukan perhitungan kira-kira hanya sekitar 200.000 km3 air yang bisa digunakan oleh ekosistem dan manusia atau tak lebih dari 1% dari total air tawar. Masihkah Anda berpikir bahwa kita tidak akan kekurangan air?
Jika Anda masih tidak peduli dengan air, silahkan Anda nikmati video berikut.
Sungguh hal yang tragis, mereka berjalan sangat jauh hanya untuk mendapatkan air yang tidak begitu bersih pula.
Air adalah sesuatu yang sangat berharga bagi mereka. Lestarikan keberadaannya untuk kita semua, karena suatu saat mungkin kita juga akan merasakan hal yang sama. Jangan pernah sia-siakan air dan janganlah mencemari air. Ada banyak orang disana yang membutuhkan air dibandingkan segalanya.
Seberapa jauh air dari tempat Anda duduk sekarang ini?
Reference:
- United Nations Environment Programme (UNEP)
- http://www.unwater.org
- http://www.water.org
Kamis, 30 Desember 2010
Bersyukurlah Kita Kalah
Beberapa hari ini kita disibukkan dengan pemberitaan tentang tim Garuda di berbagai media. Meskipun akhirnya kita gagal juara, tetapi kita patut berbangga atas permainan timnas kita dan sportivitas dari penonton.
Saya jadi teringat beberapa tahun lalu, waktu SMA. Waktu itu, ada pertandingan sepakbola antar kelas di SMA saya, yang diikuti seluruh kelas 1 dan 2 namanya "Smansa Cup".
Saat saya kelas 1, kelas saya berhasil meraih juara 3, dengan mengalahkan tim yang pernah mengalahkan kelas saya di penyisihan grup. Hampir sama dengan cerita tim Garuda kita, hanya saja bedanya kami main pada perebutan juara 3.
Saat saya kelas 2, -dengan kelas/ tim yang berbeda- kelas saya berhasil mencapai final dengan mengalahkan banyak kandidat juara lainnya. Meskipun memang tim saya di kelas 2 ini lebih menjanjikan dan menjadi kandidat utama juara.
Namun, saat itu pula, saya mendengar teman sekelas saya sendiri berdoa agar kelas kami kalah. Entah apa alasannya dia berdoa agar kelas kami yang juga kelasnya kalah dalam final di saat seluruh isi kelas -kecuali dia- berdoa agar memenangkan final untuk dapat juara. Dan tragisnya kami memang kalah..
Setelah kekalahan itu saya baru sadar bahwa teman saya tadi mendoakan kelas kami kalah agar kami tidak bertambah sombong. Ya, kalau dipikir-pikir kami memang sangat sombong saat itu untuk bisa mendapat juara dengan sangat mudah. Kelas kami sudah berkoar-koar kemana-mana bahwa tim kamilah yang akan juara sejak awal kompetisi.
Hal itu mungkin yang terjadi juga pada timnas kita kemarin, para pengurus Persatuan Stres Seluruh Indonesia beserta bos geng-nya Nurdin Silid memanfaatkan kemenangan timnas kita untuk politik dan kepentingan pribadi PSSI, bukan untuk kemenangan bangsa. Karena itulah kita kalah, dan bersyukurlah kita kalah. Kalau kita menang mungkin orang-orang itu -begitu juga kita- pasti akan semakin sombong.
Meskipun saya bangga terhadap dukungan masyarakat belakangan ini, saya juga merasa kecewa. Kenapa tidak sedari dulu dukungan seheboh ini, dan kenapa hanya olahraga ini. Saya sendiri paling menyukai olahraga ini dibanding olahraga yang lain, tapi saya juga bangga dengan prestasi kita di cabang yang lain. Ingat saja baru beberapa hari dari piala AFF ini, tim perahu naga kita meraih 4 emas di olimpiade, dan sepertinya terlupakan atau bahkan mungkin ada beberapa orang yang tak tahu atau tak mau tahu atau malah pengennya cuma makan tahu...
Ya sudahlah, itu sudah terjadi. Namun saya tetep salut dengan sportivitas suporter kita kemarin. Sekali lagi bersyukurlah karena kita kalah, karena kalau tidak kita pasti akan semakin sombong...





